-->

Yang Biasa Berjuang Akan Lebih Bisa Menghargai Sesuatu

 Berawal dari cerita seorang teman yang enggan disebutkan namanya karena alasan privasi. Dia cukup rajin dan selalu ingin melakukan yang terbaik, menjaga dan merawat apa yang pernah dia miliki. Terutama dalam hal barang-barang yang pernah ia beli, baik yang receh maupun yang lembaran.

gambar via pixlr x diedit oleh masrahman.com


Semua dia lakukan karena ngerasa kalo perjuangan sebelum membeli sesuatu yang dia inginkan itu cukup berat. Sebagai seorang yang bisa dibilang berjuang sendiri, ingin ini-itu harus berusaha sendiri, butuh waktu yang nggak sedikit untuk bisa memindahkan barang dari toko ke genggaman tangannya.

Misalnya aja waktu kecil dia pernah pengen beli sendal, dia usaha dari hal yang dia bisa. Waktu zaman sekolah emang belum bisa apa-apa, tambah lagi waktu itu masih duduk di bangku SD. Saat dimana teman-teman sebaya nya lagi asyik bermain.

Sepulang sekolah dia selalu mencari penghasilan karena uang jajan aja jarang ada, disamping itu mungkin ada ketertarikan sama uang. Tapi belum sadar soal ini, yang orang dewasa menyebutnya passion, ya.. Kalo bicara saat ini mungkin dia punya passion dalam hal cari uang.

Seribu dua ribu ia kumpulkan atas dasar menyukai saving, walau nantinya bisa aja uang itu digunakan oleh orang lain, misal dipinjam sama kerabatnya yang ada keperluan mendadak. Dari mencari barang bekas atau rongsokan, hingga cari undur-undur untuk dijual lagi ke yang membutuhkan. Biasanya kalo dia nyari barang bekas nanti dijualnya ke pengepul, kalo cari undur-undur ia jual ke seorang yang menderita penyakit (katanya) kencing manis.

Disamping itu dia juga bawa jajanan dari rumah yang biasa dibuatkan ibunya, kemudian dia jual di sekolah. Orangnya emang pemalu, dan tertutup, bahkan jualan aja harus sembunyi-sembunyi karena malu. Emang cukup aneh disini, disaat orang lain kalo jualan selalu mempromosikan, tapi dia justru malah menyembunyikan.

Tapi dasarnya ada rezeki, nawarin ke teman sebangku lalu munculah promosi dari mulut ke mulut oleh temennya tadi. Dan lucunya meskipun udah banyak yang tau kalo dia jualan, tetep aja sembunyi-sembunyi saat melayani pembeli nya.

Kejadian itu di kelas 1 mulai dia sekolah dan belajar jualan jajanan. Sementara mulai mencari penghasilan lain udah menginjak kelas 5 atau 6 SD, cari barang bekas dan sesekali cari undur-undur seperti yang udah disebutkan diatas.

Dia nggak terlalu baik, cukup polos, bahkan pernah merokok juga waktu teman sekelasnya mainan korek sama rokok. Ya, emang bukan dari rokok beneran melainkan dari kertas dan kardus yang dia buat. Tapi sesekali pernah juga diajak temennya buat beli rokok beneran di warung.

Pulang sekolah pun tiba, dia bergegas pulang ke rumah temennya karena udah janjian mau cari barang bekas, biasanya ke rumah temen dulu buat nganter dia ganti baju, selanjutnya ke rumah dia buat ganti baju. Baru abis itu mulai bekerja.

Sesekali uang hasil penjualan rongsok tadi ia gunakan untuk main PS, untuk beli rokok kalo pas lagi nakal, tapi sebenernya dia gak bisa merokok, nggak bisa juga main PS. Paling seadanya aja karena diajak sama temennya tadi.

Hingga akhirnya dia ada pemikiran kalo nanti udah gede cita-citanya pengen kerja terus merokok dengan 'legal' (tanpa dimarahi orang tua meskipun ketauan) dan rokoknya dia pengen Djarum Super, karena waktu itu adalah rokok yang paling enak aromanya. Wangi dia bilangnya.

Mulai mendapatkan informasi di internet tentang suatu bisnis, bisnis pulsa. Yang kalo sekarang dicari perusahannya itu udah nggak beroperasi lagi. Pulsagram adalah nama bisnis pertama yang dia kenal. Disini bukan lagi promosi, tapi menceritakan pengalaman.

Tanpa didasari pengetahuan dan keberanian yang cukup, angan hanyalah tinggal harapan, hampa dan kosong. Itu yang bisa mendeskripsikan. Dia udah daftar untuk ikut bisnis tadi, sampe dia mau dikasih kepercayaan sama orang dari bisnis pulsa itu buat diisikan saldo untuk belajar memahami system mereka.

Tapi dibalik keragu-raguan itu ada baiknya juga. Sebelum kita punya ilmu yang cukup, atau paling nggak ilmu dasar, jangan sesekali terjun ke suatu bisnis apapun. Sampe akhirnya berbulan-bulan ia hidup dalam mimpi dan harapan yang tak pernah terwujud.

Tahun pun berubah, sehabis lulus SD ia nggak bisa melanjutkan ke tingkat berikutnya, SMP. Entah karena orang tuanya yang nggak ada modal, atau soal lain. Sebenernya dia melihat kakak laki-laki nya yang juga nggak diteruskan sekolahnya, jadi dia pernah bilang kalo sampe SD aja nggak papa biar kayak abang.

Pernyataann itu muncul karena dia nggak mau membebankan orang tuanya, melihat keadaan saat ini yang mungkin bisa dikatakan kurang mampu. Semoga pembaca tulisan ini bisa mendapatkan pendidikan yang baik, dan tidak menyia-nyiakan apa yang ada.

Singkat cerita, akhirnya dia lulus SD dan tinggal dirumah, diam. Sampe beberapa minggu kemudian ada yang lagi cari pegawai untuk usahanya. Beliau datang ke rumah dan menanyakan apakah ada seseorang yang bisa dan mau diajak kerja? Waktu itu tawarannya untuk dibawa ke Jakarta.

Beliau butuh 1 orang, dan yang ditawarin kerja adalah kakak nya. Karena kalo kita liat kan dia baru aja lulus SD mana mungkin bisa kerja. Tapi setelah ngobrol cukup lama soal tawaran orang yang tadi datang ke rumah, dia bilang ke abang nya kalo abangnya nggak mau tawaran kerja itu, biarkan dia aja yang berangkat.

Ya, walaupun baru lulus dari SD tapi udah punya kemauan untuk mencari pengalaman. Sampe akhirnya setelah ngobrol-ngobrol dengan yang nyari pegawai, beliau mau nerima 2 orang.

Waktu pun berlalu, dia sampai di Jakarta dan mulai menjalani kehidupan sebagai seorang pekerja. Di bulan pertama dia gajian pengen buat beli hape, tapi uangnya nggak cukup. Gaji 250 ribu 1 bulan dengan uang makan sekitar 60 ribuan selama 1 minggu. Hanya cukup kalo kita pinter ngatur keuangan.

Pada musim-musimnya hape china yang model blackberry qwerty gitu, akhirnya dia beli hape dengan uang seadanya, harga 250 ribuan cukup buat sms, telpon, dan internet seadanya. Internet bukanlah kebutuhan utama, tapi biasanya dia kerja sambil ditemani musik dari mp3 player dari hp.

Beberapa bulan pun berlalu dan dia mudik untuk yang pertama kalinya dengan bawa uang 850 ribuan. Yang dia ingat waktu itu dia belikan jaket sesampainya di kampung, sampe sekarang jaketnya masih ada. Terus sisanya untuk keperluan lain.

Mungkin episode 1 cukup sampe disini aja, selanjutnya nanti kita lanjut kalo ada waktu dan kesempatan. Lalu apa yang bisa diambil dari tulisan ini?

Ini adalah kisah nyata yang benar-benar terjadi, suatu saat dia ingin berbicara langsung tanpa melalui tulisan. Punya pesan kepada temen-temen pembaca disini. Hidup emang nggak bisa dipilih kita mau lahir dimana, siapa orang tua kita, gimana keadaan kita. Tapi apapun itu, berbahagialah dengan anugerah yang pernah ada di hidupmu. Manfaatkan sebaik mungkin, walau jika itu nggak baik. Seenggaknya bisa dijadikan pelajaran buat kamu agar bisa lebih baik ke depannya, lebih baik untuk kehidupan kamu, bahkan keturunan kamu.

**Ditulis siang hari pada Sabtu, 24 April 2021 dengan sadar oleh pemilik blog.

0 Response to "Yang Biasa Berjuang Akan Lebih Bisa Menghargai Sesuatu"

Posting Komentar